Sumber : SEJARAH PERADABAN ISLAM INDONESIA
Penulis : Prof. Dr. Musyrifah Sunanto
TEORI TENTANG
MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA
SALURAN-SALURAN
TERSEBARNYA ISLAM KE INDONESIA
Islam
di Indonesia baik secara historis maupun sosiologis sangat kompleks, terdapat
banyak masalah, misalnya tentang sejarah dan perkembangan awal Islam. Oleh
karena itu, para sarjana sering berbeda pendapat. Harus diakui bahwa penulisan
sejarah Indonesia diawali oleh golongan orientalis yang sering ada usaha untuk
meminimalisasi peran Islam, di samping usaha para sarjana Muslim yang ingin
mengemukakan fakta sejarah yang lebih jujur.
Suatu
kenyataan bahwa kedatangan Islam ke Indonesia dilakukan secara dama. Berbeda dengan
penyebaran Islam di Timur Tengah yang dlam beberapa kasus disertai dengan
pemerintahan dengan…..(halaman 9)
…..mengangkat
Meurah Silu, kepaala suku Gampung Samudra menjadi Sultan Malik as-Sholeh.
Dari
paparan di atas dapat dijelaskan bahwa tersebarnya Islam ke Indonesia adalah
melalui saluran-saluran sebagai berikut.
a. Perdagangan,
yang mempergunakan sarana pelayaran.
b. Dakwah,
yang dilakukan oleh mubalig yang berdatangan bersama para pedagang. Para
mubalig itu bisa jadi juga para sufi pengembara.
c. Perkawinan,
yaitu perkawinan antara pedagang Muslim, mubalig dengan anak bangsawan
Indonesia. Hal ini akan mempercepat terbentuknya inti social, yaitu keluarga
Muslim dan masyarakat Muslim. Dengan perkawinan itu secara tidak langsung orang
muslim tersebut status soosialnya dipertinggi dengan sifat charisma
kebangsawanan. Lebih-lebih apabila pedagang besar kawin dengan putri raja, maka
keturunannya akan menjadi pejabat birokrasi, putra mahkota kerajaan,
syahbandar, qadi dan lain-lain.
d. Pendidikan.
Setelah kedudukan para pedagang mantap, mereka menguasai kekuatan ekonomi di
bandar-bandar seperti Gresik. Pusat-pusat perekonomian itu berkembang menjadi
pusat pendidikan dan penyebaran Islam. Pusat-pusat pendidikan dan dakwah Islam
di Kerajaan Samudra Pasai berperan sebagai pusat dakwah pertama yang…..(halaman
10)
…..didatangi
pelajar-pelajar dan mengirim mubalig lokal, diantaranya mengirim Maulana Malik
Ibrahim ke Jawa. Selain menjadi pusat-pusat pendidikan, yang disebut pesantren,
di Jawa juga merupakan markas pengemblengan kader-kader politik. Misalnya,
Raden Fatah, Raja Islam pertama Demak, adalah santri pesantren Ampel Denta;
Sunan Gunung Jati, Sultan Cirebon pertama adalah didikan persantren Gunung Jati
dengan Syaikh Dzatu Kahfi; Maulana Hasanuddin yang diasuh ayahnya Sunan Gunung
Jati yang kelak menjadi Sultan Banten pertama.
e. Tasawuf
dan tarekat. Sudah diterangkan bahwa bersamaan dengan pedagang, datang juga
para ulama, da’I dan sufi pengembara. Para ulama atau sufi itu ada yang
kemudian diangkat menjadi penasihat dan atau pejabat agama di kerajaan. Di Aceh
ada Syaikh Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Nuruddin ar-Raniri, Abd. Rauf
Singkel. Demikian juga kerajaan-kerajaan di Jawa mempunyai penasihat yang
bergelar wali, yang terkenal adalah Wali Songo.
Para
sufi menyebarkan Islam melalui dua cara:
1) Dengan
membentuk kader mubalig, agar mampu mengajarkan serta menyebarkan agama Islam
di daerah asalnya. Dengan demikian, Abd. Rauf mempunyai murid yang kemudian
menyebarkan Islam ditempat asalnya, di antaranya Syaikh Burhanuddin Ulakan,
kemudian Syaikh Abd Muhyi Pamijahan…..(halaman 11)
…..Jawa
Barat; Sunan Giri mempunyai murid Sultan Zaenul Abidin dari Ternate; Dato Ri
Bandang menyebarkan Islam ke Sulawesi, Bima dan Buton; Khatib Sulaeman di
Minangkabau mengembangkan Islam ke Kalimantan Timur; Sunan Prapen (ayahnya
Sunan Giri) menyebarkan Islam ke Nusa Tenggara Barat.
2) Melalui
karya-karya tulis yang tersebar dan dibaca diberbagai tempat. Di abad ke-17,
Aceh adalah pusat perkembangan karya-karya keagamaan yang ditulis para ulama
dan para sufi. Hamzah Fansuri menulis anara lain Asrar al-Arifin fi Bayan ila al-Suluk wa al-Tauhid, juga Syair Perahu yang merupakan syair sufi. Nuruddin, ulama
zaman Iskandar Tsani, menulis kitab hukum Islam Shirat al-Mustaqim.
f. Kesenian.
Saluran yang banyak sekali dipakai untuk penyebaran Islam terutama di Jawa
adalah seni. Wali Songo, terutama Sunan Kali Jaga, mempergunakan banyak cabang
seni untuk Islamisasi, seni arsitektur, gamelan, wayang, nyanyian dan seni
busana.
Melalui
saluran-saluran itu Islam secara berangsur-angsur menyebar…..(halaman 12)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar