Sumber : SEJARAH PERADABAN ISLAM INDONESIA
Penulis : Prof. Dr. Musyrifah Sunanto
Penerbit : PT RajaGrafindo Persada, Jakarta. 2005.
PERKEMBANGAN
ISLAM DI NUSANTARA
SEBAB TERJADINYA
KONVERSI MASSAL MASYARAKAT NUSANTARA KEPADA ISLAM PADA MASA PERDAGANGAN (bagian
satu)
Konversi
massal masyarakat Nusantara kepada Islam pada masa perdagangan terjadi karena
beberapa sebab sebagai berikut:
a. Portabilitas
(siap pakai) system keimanan Islam. Sebelum Islam dating, system kepercayaan
local berpusat pada penyembahan arwah nenek moyang yang tidak portable (siap pakai di mana pun dan
berlaku kapan pun). Oleh karena itu, para penganut kepercayaan ini tidak boleh
jauh dari lingkungannya, sebab kalua jauh mereka tidak akan…..(halaman 18)
…..mendapat
perlindungan dari arwah yang mereka puja. Sementara itu, mereka yang karena
sesuatu alasan harus meninggalkan lingkungan arwah nenek moyang mencari system
keimanan yang berlaku universal, system kepercayaan kepada Tuhan yang berada
dimana-mana dan siap memberikan perlindungan di mana pun mereka berada. System
kepercayaan seperti itu mereka temukan dalam Islam. Hasilnya ketika wilayah
Arab Melayu terekrut ke dalam perdagangan internasional, para pedagang Muslim
mancanegara memainkan peranan penting medorong konversi massal yang terjadi di
kota-kota pelabuhan, yang kemudian berkembang menjadi entitas politik Muslim.
b. Asosiasi
Islma dengan kekayaan. Ketika penduduk pribumi Nusantara bertemu dan
berinteraksi dengan orang Muslim pendatang di pelabuhan, mereka adalah pedagang
kaya raya. Seperti dicata seorang Spanyol yang mengamati islamisasi awal
Filipina: “Orang Moro (Muslim) itu memiliki banyak emas….” Mereka orang kaya
karena mereka para pedagang. Karena kekayaan dan kekuatan ekonominya, mereka
bisa memainkan peranan penting dalam bidan politik entitas local dan bidang
diplomatic. Ini terlihat misalnya, pada abad ke-10 dan ke-12, tidak kurang dari
dua belas orang Muslim (pedagang) menjadi duta-duta Sriwijaya dalam politik dan
perdagangan dengan Cina dan negara-negara di Timur Tengah…..(halaman 19)
c. Kejayaan
militer. Orang Muslim dipandang perkasa dan tangguh dalam peperangan. Majapahit
dipercaya telah dikalahkan para pejuang Muslim yang tidak bisa ditundukkan
secara magis. Penduduk setempat percaya mereka yang perkasa dan tangguh itu karena
memilii kekuatan-kekuatan adikodrati.
d. Memperkenalkan
tulisan. Agama Islam memperkenalkan tulisan ke berbagai wilayah Asia Tenggara
yang sebagian besar belum mengenal tulisan, sedangkan sebagian yang lain sudah
mengenal huruf Sanskrit. Pengenalan tulisan Arab memberikan kesempatan lebih
besar untuk mempunyai kemampuan membaca (literacy).
Islam juga meletakkan otoritas keilahian pada kitab suci yang ditulis dalam
Bahasa yang tidak dikuasai penduduk local sehingga memperkuat bobot
sakralitasnya.
e. Mengajarkan
penghapalan. Para penyebar Islam menyandarkan otoritas sacral. Mereka membuat
teks-teks yang ditulis untuk menyampaikan kebenaran yang dapat dipahami dan
dihapalkan. Hapalan menjadi sangan penting bagi penganut baru, khususnya untuk
kepentingan ibadah-ibadah seperti shalat.
f. Kepandaian
dan penyembuhan. Di Jawa terdapat legenda yang mengaitkan penyebaran Islam
dengan epidemic yang melanda penduduk. Tradisi tentang konversi kepada Islam
berhubungan dengan kepercayaan bahwa tokoh-tokoh Islam pandai menyembuhkan.
Raja Patani menjadi Muslim setelah disembuhkan dari penyakitnya oleh seorang
Syaikh dari Pasai.
g. Pengajaran
tentang moral. Islam menawarkan keselamatan dari berbagai kekuatan jahat.
Misalnya, orang….(halaman 20)
…..yang
taat akan dilindungi Tuhan dari segala arwah dan kekuatan jahat, bahkan orang
yang taat akan diberi imbalan surge di akhirat, sebaliknya orang yang sengsara
juga akan mendapat balasan yang sama jika mereka saleh. Pandangan lama tentang
kehidupan akhirat penuh dengan kemungkinan yang menakutkan, sebaliknya Islam
memperkenalkan janji surga yang menyenangkan…..(halaman 21).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar