Sumber : SEJARAH PERADABAN ISLAM INDONESIA
Penulis : Prof. Dr. Musyrifah Sunanto
TEORI TENTANG
MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA
TAHAPAN
PENYEBARAN ISLAM DI INDONESIA
Penyebaran
Islam di Indonesia secara kasar dapat dibagi dalam tiga tahap. Pertama, dimulai dengan kedatangan
Islam, yang diikuti oleh kemerosotan kemudian keruntuhan Majapahit pada abad
ke-14 samppai ke-15. Kedua, sejak
datang mapannya kekuasaan Kolonial Belanda di Indonesia sampai abad ke-19. Ketiga, bermula pada awal abad ke-20
dengan terjadinya “liberalisasi” kebijaksanaan pemerintah…..(halaman 12)
Kolonial
Belanda di Indonesia. Dalam tahapan-tahapan itu akan terlihat proses Islamisasi
sampai mencapai tingkat seperti sekarang.
Pada
tahap pertama, penyebaran Islam masih
relatif di kota pelabuhan. Tidak lama kemudian slam mulai memasuki wilayah
pesisir lainnya dan pedesaan. Pada tahap ini pedagang, ulama-ulama guru tarekat
(wali di Jawa) dengan murid-murid mereka memegang peranan penting. Mereka
memperoleh patronase dari penguasa lokal dan dalam banyak kasus penguasa lokal
juga ikut berperan dalam penyebaran Islam. Islamisasi tahap ini sangat diwarnai
aspek ttasawuf, meskipun aspek hokum (syariah) juga tidak diabaikan. Hal ini
karena Islam tasawuf dengan segala penafsiran mistiknya terhadap Islam dalam
beberapa segi tertentu “cocok” dengan latar belakang masyarakat setempat yang
dipengaruhi asketisme Hindu-Budha dan sinkretisme kepercayaan lokal. Juga kerena
tarekat-tarekat sufi cenderung bersifat toleran terhadap pemikiran dan praktik
tradisiional, walaupun sebenarnya bertentangan dengan praktik ketat
unitalirianisme Islam.
Islam
pada mulanya mendapatkan kubu-kubu terkuatnya di kota-kota pelabuhan sekaligus
jadi ibukota kerajaan, seperti Samudra Pasai, Malaka dan kota-kota pelabuhan
pesisir Jawa. Islam pada dasarnya adalah urban (perkotaan). Waktu itu Islam
memang sedang maju dan jaya.
Proses
Islamisasi Nusantara berawal dari kota-kota. Diperkotaan itu sendiri Islam
adalah fenomena istana. Istana kerajaan menjadi pusat pengembangan intelektual
Islam…..(halaman 13)
……atas
perlindungan resmi penguasa yang disusul kemunculantokoh-tokoh ulama semacam
Hamzah Fansuri, Samsuddin Sumatrani, Nuruddin al-Raniri, Abd Rauf Singkel di
kerajaan Aceh dan Wali Songo di kerajaan Demak. Tokoh-tokoh ini mempunyai
jaringan ilmuan yang luas baik di dalam maupun di luar negeri, sehinga
menjadikan Islam Indonesia bersifat internasional.
Kota
pelabuhan yang juga menjadi istana kerajaan yang kemudian berkembang menjadi
pusat pendidikan dan penyebaran Islam didatangi murid-murid yang nantinya akan
menjadi da’i-da’I yang menyebarkan Islam lebih lanjut ke daerah-daerah lain.
Kota pelabuhan juga menjadi pusat pengemblengan kader-kader politik sebagaimana
diterangkan terdahulu, yang kelak akan menjadi raja-raja Islam pertama di
kerajaan-kerajaan baru.
Tahap
kedua, penyebaran Islam terjadi
ketika VOC makin mantap menjadi penguasa di Indonesia. Sebenarnya pada abad
ke-17 VOC baru merupakan salah satu kekuatan yang ikut bersaing dalam kompetisi
dagang dan politik di kerajaan Islam Nusantara. Akan tetapii pada abad ke-18
VOC berhasil tampil sebagai pemegangg hegemoni politik di Jawa dengan
terjadinya perjanjian Giyanti tahun 1755 yang memecah Mataram menjadi dua:
Surakarta dan Yogyakarta. Perjanjian tersebut menjadikan raja-raja Jawa tidak
mempunyai wibawa karena kekuasaan politik telah jatuh ke tangan penjajah,
sehingga raja menajdi sangat tergantung kepada VOC. Campur tanga VOC terhadap
keratin makin luas termasuk masalah keagamaan. Peranan ulama di keratin
terpinggirkan. Oleh karena itu, ulama ke luar dari keratin dan mengadakan
perlawanan sambil memobilisasi petani membentuk pesan-…..(halaman 14)
…..tren
dan melawan kolonial seperti kasus Syaikh Yusuf al-Makassari.
Tahap ketiga, terjadi pada awal abad ke-20, ketika terjadi liberalisasi
kebijaksanaan pemerintah Belanda. Ketika pemerintah Belanda mengalami defisit
yang tinggi akibat menanggulangi tiga perang besar (perang Diponegoro, perang Paderi
dan perang Aceh) Belanda mengangkat Gubernur Jenderal Johanes van den Bosch
dengan tugas meningkatkan produktivitas. Untuk itu van den Bosch memperkenalkan
tanam paksa (cultuur stelsel) yang
mengharuskan petani membayar pajak dalam bentuk hasil pertanian yang
dipaksakan. Mulailah rakyat berkenalan dengan berbagai tanaman untuk
perdagangan internasional, sehingga terjadi revolusi ekonomi di Jawa.
Bergeserlah pengaruh penguasa tradisional (kepala adat) karena desa kini
langsung berhubungan dengan system pemerintah kolonial. Ekonomi uang
diperkenalkan, yaitu dengan didirikan pabrik-pabrik. System ekonomi yang
disebut ekonomi liberal ini mulai tahun 1870. Pada masa ini kekuasaan elit
lokal merosot hanya sebagai mandor penanaman. Untuk kepentingan ekonomi liberal
prasarana fisik dibangun, perkebunan besar, irigasi, transportasi kereta api di
Jawa dan Sumatra, pengangkutan laut, pelabuhan-pelabuhan baru, dibangun Tanjung
Priuk (1893). Dibangun pula sarana nonfisik berupa sarana pendidikan untuk
memenuhi kebutuhan perekonomian Belanda. Kondisi ini menimbulkan orientasi
politik etis tahun 1901 dengan slogan kaum liberal: meningkatkan kemakmuran dan
kemajuan rakyat tanah jajahan….(halaman 15)
Dalam perkembangannya, system pendidikan
yang semula untuk memenuhi perangkat birokrasi kolonial kemudian melahirkan
elit baru, intelektual modern yang bahan mengancam kolonialsme itu sendiri.
Ereka tampil sebagai para nasionalis yang anti colonial, yang menciptakan
terbentuknya bangsa baru-Indonesia-di atas tumpukan kesatuan etnis lama.
Bersaaan dengan usaha politik etis,
dilancarkan upaya “menjinakkan Islam” agar tidak tampil sebagai pengancam
kekuasaan. Muncul di dunia Islam dinamika Islam berupa kosmopolitanisme (rasa
satu dunia) yang mula-mula tumbuh di Timur Tengah, yang kemudian mengilhami
munculnya dinamika Islam di Indonesia.
Dominasi politik dan ekonomi colonial
memporak-porandakan bangunan struktur tradisional, juga mendesa golongan social
pribumi yang dengan system ekonomi uang pelaksanaan pajak makin memperberat rakyat.
Hal ini menimbulkan goncangan dan menumbuhkan gerakan protes. Rakyat kembali
lagi mencari pemimpin non formal para kiai dan ulama yang menjadi tumpuan
harapan. Ketika kegoncangan makin menumpuk, meletus menjadi perang kelanjutan
dari gerakan protes. Apalagi ulama mencemaskan pengaruh kebudayaan asing. Oleh
karena itu, ulama tampil memimpin geraan melawan Belanda dan birokrat
tradisional. Di antara gerakan protes rakyat Jawa: gerakan Syafif
Prawirosentono alias Amat Sleman di Yogya (1840), gerakan Kiai Hasan Maulana di
Cirebon (1842), gerakan Amat Hasan di Rembang (1846), gerakan Rifa’iyah di
Kalisasak, Batang (1850), gerakan Cilegon (1888). Peranan ulama dengan
pesantrennya semakin meluas ke pedalaman dengan membuka…..(halaman 16)
…..pesantren-pesantren
baru, pemukiman-pemukiman baru islamisasi lebih lanjut. Di samping itu mengirim
murid-murid atau putra-putranya ke Timur Tengah untuk memperdalam keagamaan,
sementara di Timur Tengah tengah muncul usaha-usaha reformasi dan kosmopolitanisme
Islam. Ketika para santri ini pulang membawa pemikiran-pemikiran baru, mereka
telah menjadi ulama muda yang mendirikan organisasi-organisasi di perkotaan.
Ketika kegelisahan rakyat petani pribumi tetap ada, kembali lagi Islam menjadi
tumpuan harapan. Kalua dahulu pimpinan mereka adalah sultan dan ulama,
selanjutnya dipimpin oleh bangsawan yang didukung kiai dana tau ulama. Namun,
kemudian gerakan protes yang dipimpin kiai petani semuanya gagal. Muncul
harapan baru terhadap ulama-ulama muda yang mebuat organisasi-organisasi di
perkotaan dengan ruang lingkup nasional. Penyebaran Islam yang dulu
dilaksanakan atas harapan yang berwatak
religio-magis telah diganti oleh organisasi-organisasi yang mempunyai ideology
yang merupakan perumusan strategis dan sistematis dari aspirasi keislaman.
Dalam konteks ini, Islam merupakan peletak dasar bagi nasionalisme Indonesia…..(halaman
17)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar