Sumber : SEJARAH PERADABAN ISLAM INDONESIA
Penulis : Prof. Dr. Musyrifah Sunanto
Penerbit : PT RajaGrafindo Persada, Jakarta. 2005.
PERKEMBANGAN
ISLAM DI NUSANTARA
SEBAB TERJADINYA
KONVERSI MASSAL MASYARAKAT NUSANTARA KEPADA ISLAM PADA MASA PERDAGANGAN (bagian
dua)
Melalui
sebab-sebab itu (yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya) Islam cepat
mendapat pengikut yang banyak. Sebagaimana sudah disebutkan terdahulu bahwa
pedagang Muslim asal Arab, Persi, India diperirakan telah sampai ke kepulauan Indonesia
untuk bedagang sejak abad ke 7 M (ke-1 H), ketika Islam di Timur Tengah para
pedagang berlayar kea rah timur melintasi laut Arab, teluk Oman, teluk Persi
singgah di Gujarat, terus ke teluk Benggala atau langsung ke selat Malaka,
terus ke Timur ke Cina atau sebaliknya dengan menggunakan angina musim untuk
pelayaran pulang pergi. Ada indikasi kapal-kapal Cina juga mengikuti jalur
tersebut pada abad ke-9 M. demikian juga kapal-kapal Indonesia mengambil bagian
dalam perjalanan ini. Pada zaman Sriwijaya pedagang dari penduduk Nusantara
telah mengunjungi pelabuhan Cina dan Pantai Timur Afrika.
Menurut
J.C. van Leur diperkirakan sejak 674 Masehi telah ada koloni Arab di barat laut
Sumatra yaitu di Badrus. Namun, menurut Taufik Abdullah pada masa itu belum
ada…..(halaman 21)
…..bukti
bahwa di tempat-tempat yang disinggahi pedagang Muslim sudah ada pribumi
Nusantara yang beragama Islam. Diduga para pemeluk Islam itu adalah para
pedagang Muslim luar yang singgah dan tinggal sementara untuk menunggu angin
musim yang akan mengantarkan kembali ke negeri mereka. Baru pada zaman
berikutnya penduduk pribumi ada yang memeluk Islam. Menjelang abad ke-13 Masehi
masyarakat Muslim sudah ada di Samudra Pasai, Perlak, Palembang di Pulau
Sumatra. Sedangkan di Jawa, makam Fatimah binti Maimun di Leran (Gresik) yang
berangka tahun 575 H/1082 M serta makam Troloyo yang berangka tahun abad ke-13
M menjadi bukti berkembangnya komunitas Muslim di pusat kekuasaan Jawa-Hindu di
Majapahit.
Dengan
cara perlahan dan bertahap, tanpa menolak dengan keras, terhadap kultural
masyarakat sekitar, Islam memperkenalkan toleransi dan persamaan derajat. Dalam
masyrakat Hindu-Jawa yang menekankan perbedaan derajat, ajaran Islam menarik
perhatian. Ditambah lagi kalangan pedagang yang mempunyai orientasi
cosmopolitan, panggilan Islam ini kemudian menjadi dorongan untuk mengambil
alih kekuasaan politik dari tangan penguasa yang masih kafir….(halaman 22)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar